Rabu, 13 Juni 2012

Pelajaran berharga dari teman Kecil


Hello . Sekarang aku mau berbagi sedikit cerita dari SLB Putra Jaya . Jadi, Kemarin aku dan kawan-kawan sekelasku dapat tugas untuk obsevasi perilaku abnormal. Aku dan beberapa temanku melakukan observasi di SLB Putra Jaya. Sebelumnya kita rencananya mau melakukan observasi di YPAC namun karena disana meminta uang administrasi yang mahalnya gilak *yang ini lebay* maklum mahasiswa #hihihi, akhirnya kita pun memutuskan untuk melakukannya di SLB Putra Jaya. Disana kita melakukan observasi pada anak SD, dan aku memilih untuk mengobservasi anak yang mengalami tuna grahita atau retardasi mental. Walaupun harus mengobservasi aku dan teman-temanku juga dekat dengan anak-anak yang lainnya. Mereka semua lucu-lucu menggemaskan, banyak orang yang menghindar dari mereka karena mereka berbeda dengan kita tapi mengenal mereka membuat aku belajar banyak, membuat aku mengerti betapa beruntungnya aku. Oke, lebih baik aku kenalkan saja mereka ini yaaa . Cekidot !
1.      Akif
Namanya Akif, gurunya bilang dia menderita autis. Pertama kali melihatnya sih, ga kaget. Keliatanlah dari perilakunya. Saat diajak ngobrol pun dia selalu bermain-main dengan kepalanya. Apapun yang dia inginkan harus dituruti, kalo ngga dia bisa ngamuk. Dan bisa kalian bayangkan anak seperti dia ngamuk? Oh tidaaak.. dan aku pernah melihatnya. Pernah nih, suatu hari dia tiba-tiba ngamuk. Ngamuuk meen. Teriak-teriak gitu.. trus ngelempar barang yang ada di sekitarnya. Sangar ga  ?!. Abis itu dia langsung lari keluar, dan kalian tau apa yang terjadi di luar ?? dia tertawaa !!. Aku flashback ya, dia marah-marah trus ngelempar barang sambil teriak-teriak, trus sampe di luar tertawa. GEdubrak! Aku Cuma bisa melongo liat dia, hihihi. Tapi ya dia nih lumayan pinter lho, aku piker anak-anak seperti dia ini tidak bisa berhitung, membaca, dll. Tapi dia ngga lho. Dia bisa ! menulisnya pun cepat. Betapa hebatnya orang tua dan gurunya yang begitu sabar mengajarinya. Subhanallaaah ….

2.  Suci
Menurutku dia ini gadis yang bisa cepat bersosialisasi dengan kita. Anaknya cereweeet. Banget malah ! tapi seru. Kita mau ke kantin di antar, mau kemanapu d antar. Dia menderita tuna grahita, jika dilihat dia saperti orang normal. Ga berbeda, namun saat belajar dengan untuk belajar matematika pun susahnya minta ampuuun, kata temenku. Ya, dia memiliki IQ rendah. Tapi dia ini pandai menari lho. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

3.    Reva
Hari pertama aku observasi, aku tidak melihat Reva. Mungkin dia sedang tidak masuk sekolah. Hari kedua aku baru melihatnya. Dia sedang duduk di kursi di depan ruang guru. Saat bel berbunyi semua anak buru-buru masuk kelas namun dia hanya diam duduk di kursi memperhatikan sekitarnya. aku mengajaknya masuk “haii.. kenapa diam? Ayo masuk dengan kakak..” kataku agak jauh darinya. Tapi dia hanya diam tersenyum. Aku sempat berfikir, apa dia tidak bisa berbicara. Akhirnya kuhampiri dia sambil memegang tangannya dan menuntunnya masuk kelas. Dari kursi yang dia duduki menuju kelas dia harus menuruni tangga, saat itulah aku tau kenapa dia tidak lekas beranjak dari tempat dudunya. Dia idak bisa berjalan dengan sempurna! Jika dia mau berjalan dia harus dituntun. Oh, pantas saja dia hanya tersenyum manis saat mengajakya masuk kelas. Katanya saat kecil dia jatuh ari tangga dan di pijat di tukang urut namun yang terjadi malah salah urat. Ehmm, kasiaan.. Padahal dia pintar sekali. Dia hanya cacat fisik bukan psikis. Semangat ya Reva :)

4.     Alvin
Alvin adalah anak yang menderita Autis. Sayang sekali, padahal dia anak yang cakep lho. Temen-temenku pada berebut ingin foto dengannya, termasuk aku, hihihi. Namun sayang, dia tidak bisa diajak berkomunikasi. Bukan tidak bisa, sebenarnya dia mengerti apa yang kita katakana namun mungkin dia tidak bisa mengungkapkan apa yang ingin dia katakana, dan akhirnya dia hanya trsenyum manis. Iya! Jadi, kita berceloteh panjang lebaaaaar dan jawabannya hanya senyum, senyum, dan senyum #okesip. “Alvin, gimana tadi di belajarnya?” senyum. “Alvin, tadi diantar siapa?” senyum. “Alvin, nanati di jemput siapa?” senyum. “Alvin, bawa bekal apa?” senyum. “Alvin, kakak cantik ga?” senyum. Aku jadi berfikir, gimana kalo seandainya ada perampok yang ingin merampoknya “Alvin, boleh saya merampokmu?” senyum. Hahaha, oke yang tadi itu berlebihan. Yang pasti pelajaran yang bisa aku ambil dari seorang Alvin adalah indahnya dunia ya jika segala sesuatu yang buruk sekalipun dihadapi dengan senyuman.

5.    Ajeng

Setiap bertemu anak ini, aku gemeees banget !. Ajeng ini anak yang manja. Jadi setiap ada orang yang ngerjain dia, dia selalu minta perlindungan orang yang ada di dekatnya. Seperti saat dia di gangguin oleh temna-teman cwonya da ga sengaja aku ada di sebelahnya, tiba-tiba dia nangis sambil memeluk aku. Haha, lucu. Akhirnya ak diemin dia, aku ajak dia bermain. Setelah itu dia baru asik bermain. Dan kemudian saat aku duduk di bangku dengan muka lemas gitu tiba-tiba dia datang dan langsung memukulku dengan penggaris. Aw.. Aw.. Santai meeen, hahaha. Setelah aku perhatikan ternyata dia berlagak jadi guru dan aku muridnya yang sedang tidur, makanya aku dipukul dengan penggaris olehnya, haha. Akhirnya aku pun pura-pura tidak memperhatikanku, dia terus-terusan memukulku dan pura-pura marah bak seorang guru galak. Ajeeeng.. Ajeeng.. Semoga nanti kamu memang bisa menjadi guru yaa..

6.    Farhan dan Irul

Mereka berdua ini bisu dan tuli, jadi setiap mau berkomunikasi dengan mereka aku harus menggunakan bahasa isyarat. Aku selalu berfikir bagaimana hidup mereka tanpa suara, tanpa nada. Sepi? Pasti.. Hmm, aku ga bisa bayangin jika aku menjadi mereka. Dan yang aku suka dari mereka, dari keterbatasan yang mereka punya mereka bisa berprestasi. Yah! Contohnya saja pantomime. Saat ulang tahun andika, temannya. Pantomime yang tidak membutuhkan suara, hanya gerak saja. Mereka bisa dan waw kereen men. Irul.. Farhaan.. Jadilah yang terbaik dalam keterbatasan.

7.    Andika

Saat pertama melihatnya aku kaget. BUseet, pake baju merah pituh tapi uda kumisan n jenggotan segalaa. Alamaak ! :D. Dan yang bikin kaget lagi, hari pertama aku kesana ternyata dia lagi ultah dan ada syukuran gitu buat dia. Dan anda tau berapa umurnya sodara-sodara, 24 tahun. Waw, dia lebih tua daripada saya. Ehmm, begitulah di SLB ini, tidak memandang umur berapa anak tersebut namun seberapa kemampuannya. Kemampuan yang sama akan di taruh di kelas yang sama. Tapi walaupun begitu jika dilihat, naluri kebapakannya selalu muncul. Seperti saat ajeng di gangguin oleh teman-temannya dia selalu memeluk ajeng sambil berkata “cupp.. cup..” berusaha mendiamkan ajeng. Atau saat suci marah lalu menangis dia berkata, “sudahlah suci, jangan nangis lagi.. ayo belajar lagi”. Oh, andikaaa…

8  Tegar

Ini dia, anak yang aku observasi untuk tugas laporan observasiku. Anak yang terlihat normal namun ternyata mengalami tuna grahita. Ya, dia ini sebenarnya kelas 4 SD namun karena kemampuannya diatas teman-teman sekelasnya akhirnya dia dimasukkan di kelas 6. Dan meskipun dia dimasukkan di kelas 6 SD dia tetap unggul diantara teman-temannya. Dia menderita Retardasi Mental ringan. Dia selalu mengerjakan tugas dari gurunya dengan cepat dan dengan sempurna. Walaupun ada salah, mungkin hanya salah 1 nomor saja. “Tegar memang unggul disini, namun jika dia ditaruh di sekolah umum dia mungkin ada di nomer terakhir” kata sang guru. Walaupun begitu Tegar mempunyai mimpi yang sangat besar. Tak bisa kubayangkan anak umur 13tahun dan berada di SLB berceloteh tentang keingin dia untuk kuliah, ingin kuliah dimana. Jarang aku menemukan anak normal seumurannya bermimpi setinggi itu, memikirkan bagaimana dia nanti, bagaimana kuliahnya nanti. Aku saja seumurannya, tidak sampai memikirkan harus kuliah dimana, mau jurusan apa. Aku hanya berfikir bagaimana nanti aku jika SMA bukan kuliah. Waw, kamu hebat tegar. Raihlah mimpimu itu :)

Itulah sebagian cerita kecil dari teman-teman kecilku di SLB, belum semua sih. Tapi aku berharap semoga cerita-cerita kecil deri mereka, harapan-harapan mereka bisa memberikan pelajaran hidup buat kita. Ya pelajaran berharga dari teman kecil, Pelajaran syukur. Syukur karena kita masi bisa berfikir, mendengar, berbicara, tersenyum, bermimpi. Terkadang kita melupakan hal-hal kecil itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar