Selasa, 24 Juli 2012

Perbedaan Itu


Berjalan bergandengan tangan dan angin menghembuskan dengan lembut mencoba mengganggu kita. Langit gelap mendung pertanda hujan akan menyapa kita berdua, namun aku merasa sore ini cerah secerah hatiku. Kita berjalan bersama bergandengan tangan, mungkin orang-orang yang kita lewati menatap kita aneh karena sehelai kain tipis yang menempel di kepalaku dengan gelang salib di tangannya. Tidak peduli itu, kita hanya terus berjalan mencoba menghapus semua perbedaan diantara kita. Ya, perbedaan ! perbedaan agama diantara kita, yang selalu mengguncangkan hatiku, yang setiap malam selalu mempertemukan aku dengan bulir air mata. Kita berjalan seolah tanpa tujuan, sama seperti hubungan ini. Aku tak tau harus bagaimana dengan hubungan ini. Di saat pasangan-pasangan lain sedang menceritakan kekasihnya kepada kedua orang tuanya atau sibuk menentukan tanggal cantik untuk pernikahan mereka. Aku? Bagaimana dengan aku? Untuk menceritakan siapa kekasihku saja aku tidak berani. Menunjukkan fotonya saja seperti harus menghadapi ujian skripsi yang berat. Bahkan aku sama sekali tak punya keberanian untuk menceritakan kekasihku kepada ibuku orang yang selalu menjadi curahan hatiku. Ya, kekasihku yang bermata sipit.. berkulit putih.. dengan gelang salib di tangannya, dan bahkan aku selalu menemukan alkitab di tas kecilnya. Setiap melihat itu semua, setiap menatapmu seperti ada desiran di hatiku, hati kecilku selalu berkata “bagaimana bisa kamu mencintainya?”. Sampai saat inipun kau tak bisa menjawab pertanyaan sederhana namun menyiksaku itu. Selalu aku bertanya pada Tuhanku, “bagaimana bisa Engkau berikan rasa cinta ini jika kita tidak bisa bersatu nanti?” dan untuk kesekian kalinya tetes air mata ini jatuh. Tak bisa ku tahan air mata ini ketika setiap pagi selalu ada dering telpon darimu mencoba membangunkanku dengan berkata “setelah merapalkan Doa Bapa Kami, saya langsung membangunkanmu yang akan sholat subuh, saying cepat ambil wudhu yaa..”. Mencoba menahan air mata yang akan jatuh aku mngiyakan dan segera menutup telpon itu. Tak pernah lupa aku berdoa kepada Tuhanku untuk kita.. untuk kita berdua.. agar kita bisa menjadi satu. Dan aku tau, saat kamu menggenggamkan tanganmu sambil memegang salibmu.. mata sipitmu terpejam… kamu juga berdoa untuk kita.. untuk kitaaa.. agar kita bisa satu..
Kesetiaanmu, itu yang membuatku bertahan untukmu. Aku bahagiaa.. bahkan sangat bahagia saat bersama. Tuhan, engkau tau.. Engkau tau bagaimana kita, bagaimana perasaan ini.. karena Engkaulah yang menciptakan perasaan ini Tuhan.. Dan aku tau Tuhan, Engkau punya rencana yang indah untuk kita berdua… Aku percaya padaMu, Tuhan…
Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

2 komentar: