Sabtu, 06 Oktober 2012

Ini Untukmu :)


Malam minggu…
Malam ini bukan malam kelabu, bukan juga malam yang special. Bagiku malam ini sama dengan malam-malam lainnya, sama istimewanya. Karena hatimu masih bisa kupeluk, matamu masih bercahaya, tawa renyahmu masi bisa kudengar dan senyummu masih bisa kulihat.. Karena kamu tak pernah beranjak pergi dari sisiku, selalu disini.. disampingku..
Mereka yang selalu menunggu minggu malam untuk bertemu kekasihnya, atau hanya untuk mendengar kata sayang mereka harus bersabar menanti 6 hari. Tapi aku? Setiap hari kudengar itu darimu, melalui pesan kecil, melalui pesawat telpon, dan juga melalui hatimu.
Ingatkah kamu ketika kita merancang mimpi bersama ? Kamu bercerita tentang kita, tentang hidup kita. Aku mengamini setiap kata-kata yang kau ucap, setiap kalimat-kalimat yang kudengar. ahh.. saat itu pikiranku melayang, seolah membangun jalan kecil bersamamu. Seolah aku diajak terbang bersamamu, dengan sayap-sayap kecil yang kau ciptakan untuk kita. Putih manis tak berdebu.. Dengan wajah konyolmu, kau membuatku terpesona.. :p
Aha.. ingatkah kamu dengan perkenalan awal kita? Jauh dari kata romantis.. datar-datar saja.. mungkin saat itu kamu masih bersamanya dan hatiku masih untuknya. Tapi Tuhan, membawa kita pada jalan yang sama, dipertemukannya kita pada hal-hal yang tak terduga.. hal-hal yang menurutku ini kebetulan, berjalan mengikuti takdir dan aku bertemu kamu dan akhirnya menjadi kita..
Pasti saat ini senyummu mengembang, ketika kamu membaca deretan tulisan kecil ini. Tulisan kecil ini untukmu.. Hadiah karena rasa sayangmu, karena setiamu.. karena aku ada dihatimu..
Aku sayang kamu :)

Senin, 01 Oktober 2012

Untukmu Yang Selalu Membuatku Kesal


Pukul 03:04.
Dini hari… kupaksakan untuk melanjutkan tidurku.. mataku semakin tak bias ku aja kompromi. akhirnya kuputuskan untuk menulis. Banyak orang yang bilang, jika kamu sakit hati menulislah, tuangkan isi hatimu pada kata-kata yang manis, biarkan jari-jari indahmu menari memainkan kata.
Malam ini hampir sama dengan sebelumnya, tiba-tiba terbangun tengah malam. Tapi kali ini sedikit berbeda, Aku berniat menunggu satu pesan darimu. Aku tau akhir-akhir ini kamu sedang sibuk dengan berbaga  kegiatanmu atau mungkin kamu sedang ingin menikmati harimu tanpa omelan-omelan kecil dariku. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk tidak terus-menerus menodongmu dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan konyol dariku. Malam ini aku biarkan kamu berceloteh dengan teman-temanmu. Namun keinginanku untuk mendengarkan suaramu tak bisa kutahan, berlebihan memang.. namun seandainya kamu menjadi aku mungkin kamu akan melakukan hal yang sama denganku, segara kutelfon kamu berharap kamu belum berada di dunia mimpi.
“Hallo..” terdengar suara tak asing bagiku.
Tak tau kenapa, aku tak ingin berbicara.. aku hanya ingin mendengar kamu berceloteh-celoteh dengan berbagai cerita konyol yang membuatku tersenyum walau rasa kantuk menyerang atau membuat ku akhirnya tak bisa tidur. Tapi nyatanya aku salah, kamu tak lebih hanya bebicara 10 kata, tiba-tiba telfonnya terputus. Lagi.. lagi.. kamu mematikan telfonnya tanpa permisi. Kali ini aku memilih tidak memaksa menelfonmu lagi. Sering kau lakukan ini padaku, biasanya aku marah padamu bukan? Kali ini aku memilih diam. Kali ini aku berharap ada sebuah pesan darimu. Aku tunggu.. tidak ada! Tak sabar menunggu lebih lama, aku pun menulis pesan padamu. Aku tau, kamu sedang tidak ingin berbicara denganku kan? Sedang malas mendengar suaraku kan? Tak mau mendengar celoteh-celotehku kan? Tidaak.. tenang saja aku sebenarnya aku hanya ingin mendengar suaramu saja. Mungkin kamu tidak mengerti atau mungkin kamu sedang tidak ingin di ganggu olehku. Dengan berbagai alasanmu.. dengan kebohongan-kebohongan kecilmu aku menangkap kamu tidak ingin diganggu olehku. Sayang.. bisakah kau katakan sejujurnya tanpa berbohong? Jujur ataupun bohong membuatku sakit, tapi setidaknya dengan jujurmu mengurangi sedikit sakitku. Tapi aku lebih memilih mengikuti maumu. Aku lelah, lelah yang mau beradu mulut denganmu, malas yang mau membuat pertengkaran-pertengkaran kecil denganmu. Sakit sayang… berkali-kali kamu lakukan ini. Simple memang, kamu hanya menutup tefon ditengah-tengah pembicaraan kita. Tapi bisa kan kamu mengakhiri telfonnya dengan kata-kata manis? Bukankah itu lebih mudah? Atau kamu sudah malas?
Entahlah, kali ini akupun memilih diam. Membiarkanmu memilih sendiri…

Untukmu yang selalu membuatku kesal