Senin, 01 Oktober 2012

Untukmu Yang Selalu Membuatku Kesal


Pukul 03:04.
Dini hari… kupaksakan untuk melanjutkan tidurku.. mataku semakin tak bias ku aja kompromi. akhirnya kuputuskan untuk menulis. Banyak orang yang bilang, jika kamu sakit hati menulislah, tuangkan isi hatimu pada kata-kata yang manis, biarkan jari-jari indahmu menari memainkan kata.
Malam ini hampir sama dengan sebelumnya, tiba-tiba terbangun tengah malam. Tapi kali ini sedikit berbeda, Aku berniat menunggu satu pesan darimu. Aku tau akhir-akhir ini kamu sedang sibuk dengan berbaga  kegiatanmu atau mungkin kamu sedang ingin menikmati harimu tanpa omelan-omelan kecil dariku. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk tidak terus-menerus menodongmu dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan konyol dariku. Malam ini aku biarkan kamu berceloteh dengan teman-temanmu. Namun keinginanku untuk mendengarkan suaramu tak bisa kutahan, berlebihan memang.. namun seandainya kamu menjadi aku mungkin kamu akan melakukan hal yang sama denganku, segara kutelfon kamu berharap kamu belum berada di dunia mimpi.
“Hallo..” terdengar suara tak asing bagiku.
Tak tau kenapa, aku tak ingin berbicara.. aku hanya ingin mendengar kamu berceloteh-celoteh dengan berbagai cerita konyol yang membuatku tersenyum walau rasa kantuk menyerang atau membuat ku akhirnya tak bisa tidur. Tapi nyatanya aku salah, kamu tak lebih hanya bebicara 10 kata, tiba-tiba telfonnya terputus. Lagi.. lagi.. kamu mematikan telfonnya tanpa permisi. Kali ini aku memilih tidak memaksa menelfonmu lagi. Sering kau lakukan ini padaku, biasanya aku marah padamu bukan? Kali ini aku memilih diam. Kali ini aku berharap ada sebuah pesan darimu. Aku tunggu.. tidak ada! Tak sabar menunggu lebih lama, aku pun menulis pesan padamu. Aku tau, kamu sedang tidak ingin berbicara denganku kan? Sedang malas mendengar suaraku kan? Tak mau mendengar celoteh-celotehku kan? Tidaak.. tenang saja aku sebenarnya aku hanya ingin mendengar suaramu saja. Mungkin kamu tidak mengerti atau mungkin kamu sedang tidak ingin di ganggu olehku. Dengan berbagai alasanmu.. dengan kebohongan-kebohongan kecilmu aku menangkap kamu tidak ingin diganggu olehku. Sayang.. bisakah kau katakan sejujurnya tanpa berbohong? Jujur ataupun bohong membuatku sakit, tapi setidaknya dengan jujurmu mengurangi sedikit sakitku. Tapi aku lebih memilih mengikuti maumu. Aku lelah, lelah yang mau beradu mulut denganmu, malas yang mau membuat pertengkaran-pertengkaran kecil denganmu. Sakit sayang… berkali-kali kamu lakukan ini. Simple memang, kamu hanya menutup tefon ditengah-tengah pembicaraan kita. Tapi bisa kan kamu mengakhiri telfonnya dengan kata-kata manis? Bukankah itu lebih mudah? Atau kamu sudah malas?
Entahlah, kali ini akupun memilih diam. Membiarkanmu memilih sendiri…

Untukmu yang selalu membuatku kesal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar