Sabtu, 04 Juli 2015

Hingga pada suatu hari ~

Aku senang sekali. Aku bahagia sekali. Karena aku sedang membangun sebuah istana. Tapi istana yang ingin ku bangun masih rata dengan tanah. Aku harus menyiapkan semua. Sendiri. Semuanya kupersiapkan dengan baik. Dan kamu tau apa yang membuatku semakin bahagia? Kamu dengan sukarela membantuku. Bangunan istana ini, aku bangun berdasarkan mauku baik bentuknya, tingginya, rancangannya. Semuanya. Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Aku tak mau menghentikan pekerjaanku ini. Tiap hari ku kerjakan. Aku ingin membangun tinggi sekali, aku ingin membangunnya hingga ke atas awan. Kamu pun tak henti, tanpaku minta turut membantuku. Aku tak pernah merasakan lelah karena rasa bahagiaku terlalu tinggi.
hingga pada suatu hari. Kamu meminta izin untuk pergi. Tidak bisa membantuku. Hari itu aku sedih. Tapi kamu mengembalikan kebahagiaanku kembali. Karena kamu mengatakan smua yang akan kamu lakukan untuk masa depanmu. Dan masa depanku juga. Dan kamu katakan KITA!. Setelah kamu pergi. Aku pun berusaha sendiri. Aku tetap membangunnya. Merancangnya setinggi impianku. Aku pun berjanji padamu, suatu saat nanti istana ini akan kita tempati bersama. Semua kujalani sendiri. Aku merancang sebaik mungkin. Kusiapkan tempat istirahat yang nyaman untukmu. Kusiapkan ruang santai yang nyaman untukmu agar kita bisa bersenda gurau bersama. Kusiapkan halaman yang luas agar kita bisa bermain layangan bersama. Kusiapkan ruang tamu yang mewah untukmu agar kamu dan temanmu bisa menikmati hari bersama.
Dan pada saat aku membangun. Membangun tinggi. Membangun dengan tinggi-tingginya. Membangun hampir mencapai awan. Tiba-tiba kamu datang. Tapi kamu datang dengan wajah memerah, tak memperlihatkan senyum sedikitpun. Kau datang dengan kemarahan yang memuncak. Kau datang dengan wajah ketus. Dan tiba-tiba kamu hancurkan istana yang susah payah ku bangun. Dengan gilanya kamu merusak semuanya. Kamu hancurkan semuanya dengan tangan kosong. Aku berteriak histeris. Aku menangis kencang. Tapi kamu seolah tak peduli. Kamu seolah tak mendengar aku. Kamu seolah tak melihat aku. Aku semakin kalut. Aku menahan tanganmu, namun kamu semakin hempaskan aku. Hingga aku terdorong jauh. Aku menangis sejadi-jadinya. Kamu sudah tidak memperdulikan ku. Kamu terus merusak semuanya. Menghancurkan semuanya. Semakin keras kamu merusaknya. Semakin keras pula aku menangis. Aku berteriak kencang tapi kamu tidak mendengar. Aku sudah tidak peduli dengan diriku sendiri. Aku menangis ditengah-tengah istanaku yang sudah rata dengan tanah. Kamu meninggalkan semuanya setelah kamu puas menghancurkan semuanya. Sesekali aku berteriak histeris. Aku tidak peduli dengan orang-orang disekitarku. Siang malam aku menangis. Dan kamu. Entah kamu menghilang kemana.
Semakin aku menangis dan menyebut namamu. Kau semakin hilang. Semakin menjauh.
Sampai ku lihat, kau bersama dengan seorang wanita yang tak ku kenal. Siapa dia? Diakah penyebab semua ini?
aku menangis lagi. Kalut. Kecewa. Marah. Sejahat itu kah kamu?
"kamu ga jahat... Ada apa dengan kamu? Aku seperti tidak mengenalmu.." isakku sambil menangis.
Kamu tau apa yang kamu hancurkan? Yang aku bangun berjuta-juta hari? Yang tak hentinya aku perjuangin? Yang membuatku melupakan segalanya?
Itu tadi istana impian. Milikku. Dan dengan mudahnya kamu hancurkan dengan tangan kosong. Dengan mudahnya kau hancurkan semua mimpi dan impianku. Dalam keadaan kalut, aku menangis sejadi-jadinya.. entah cobaan apa ini
 Kenapa harus begini. Tuhan.. aku terisak. Menyebut namamu berkali-kali. Semakin ku sebut namamu semakin ku menangis.
Aku terus terisak. Menangis menjadi-jadi. Aku seperti tidak bisa melakukan apa2. Kamu menjadi seorang yang tidak ku kenal lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar